Tuesday, May 28, 2013

EPISODE KEDUA

Posting on Rosania Rossa di Tuesday, May 28, 2013

Matahari sudah lelah berbincang dengan angin, karena semakin lama angin semakin bernafsu untuk berdiskusi, menjadi kencang dengan sendirinya, mengaburkan sinar yang sekuat tenaga dipertahankan sang mentari agar masih bisa menunjukkan Teo jalan pulang. Awan-awan yang dari dulu hanya menjadi background langit itu lebih memihak angin untuk tidak berteman dengan bangsa manusia. Ia menghitam.
 Teo berhenti sejenak. Dibuangnya nafas berat untuk kesekian kali. Dihadapannya melintang sebuah kaca besar. Ia pun melepaskan kacamata minusnya. Diusapnya debu yang menempel di sana dengan kain khusus yang selalu diletakkannya di saku baju. Tapi sekian lama ia berhenti dan berdiri di sana, aku melihat ia tidak tertarik untuk memandang sosok dirinya di dalam kaca. Mungkin akan ada ketakutan saat ia sadar kalau ia masih juga hidup. Yang kulihat hanya roman wajah Teo yang terlihat lebih tua dari umurnya, juga kacamatanya itu, seakan menggambarkan kalau ia sudah sangat penat menghabiskan usia. Kaca itu memberiku gambaran kalau sebenarnya Teo tidak ingin meneruskan menuruni tangga-tangga itu. Ia tidak ingin segera pulang. Ia ingin kembali ke lantai atas. Kembali ke singgasananya sambil memandang kesemrawutan kota kecilnya. Duduk di tempat paling pojok di ruang kelasnya. Menurutku ia merasa akan segera gila kalau selalu teringat bahwa satu episode yang diberikan Tuhan padanya tidaklah menyenangkan. Tapi di luar itu persisnya aku tidak tahu. Aku tidak pernah bisa membaca pikiran Teo. Selama ini aku hanya mengawasinya dari tempatku dan ceritakan ini pada kalian. Dan kini aku akan biarkan Teo berkisah sendiri. Tentang sebuah episode dalam hidupnya.

Aku membetulkan letak kacamataku dengan telunjuk mengarah ke atas. Situasi ini butuh perubahan. Tapi bagaimana aku mengubah Ito, aku sendiri tidak pernah tahu.
Akhirnya kuketuk juga daun pintu rumah Ito setelah lama berdialog dengan hatiku sendiri. Kuputuskan bicara padanya untuk kesekian kali. Lebih tepatnya mencoba meminta maaf. Dan kuputuskan juga untuk menerima kebisuan Ito padaku seperti yang selalu kudapatkan sebelumnya.
Tapi kali ini juga seperti kemarin dan kemarinnya lagi, hanya wajah keriput ayah Ito yang menyambutku. Meski raut wajahnya terlihat sarat dengan beban hidup tetapi bagiku bisa memandang wajahnya sangatlah membahagiakan. Paling tidak ada seorang penghuni rumah itu yang mau menyambutku dan mengizinkanku menapaki lantai tanah di dalamnya.
                “ Pakdhe, bagaimana kabar Ito ?,”
            Lelaki setengah baya di hadapanku itu kini semakin menunjukkan kerutan di dahinya. Mungkin ia memikirkan alasan kenapa aku tidak pernah bosan datang ke rumahnya selama 1  tahun ini hanya untuk sekedar mendengar Ito bicara padaku lagi.
            ” Pakdhe, saya minta maaf jika kedatangan saya mengganggu semua yang ada di sini, terutama Ito. Tapi bukan seperti itu maksud kedatangan saya. Saya…hanya ingin dimaafkan…,”
            Aku tertunduk. Kalimatku tadi memulai kebisuan antara aku dan ayah Ito. Entah kenapa aku selalu lebih suka memandangi butiran-butiran tanah di bawahku, di rumah Ito ini, daripada lantai marmer yang dipasang di rumahku. Hingga bisa dipastikan aku selalu tertunduk saat ayah Ito memandangku lekat-lekat seperti sekarang ini.  
            Aku semakin tertunduk. Kalimatku tadi menutup kedatanganku hari ini. Ayah Ito yang seorang pedagang kaki lima itu tidak begitu pandai bicara hingga beliau membiarkanku terlalu lama berdiri saja sambil tertunduk. Mungkin karena aku anak seorang bupati atau mungkin juga bentuk persetujuan beliau terhadap sikap Ito yang enggan bicara padaku lagi.
            ” Nak, datanglah kemari lagi esok. Bantu bapak untuk membuat Ito kembali bersemangat. Paling tidak membuatnya meninggalkan kamarnya barang satu jam saja,” Ayah Ito menepuk bahuku pelan. Rasanya membanggakan sekali saat bahuku ditepuk seperti sekarang ini oleh seorang pria dewasa yang sepertinya mempunyai banyak pengalaman hidup yang bisa dibaginya denganku. Aku selalu berharap bahuku bisa ditepuk seperti sekarang ini oleh pria dewasa yang menjadi ayahku. Setidaknya sekali saja, saat aku berhasil lulus dari sekolah menengah atas tahun kemarin.
            Aku tersenyum dalam kepulanganku kali ini. Pesan yang begitu menyenangkan untuk didengar. Meskipun pada akhirnya tidak ada yang kudapatkan dari Ito dalam setiap kedatanganku. Ito hanya mengizinkanku memandangi pintu kamarnya tanpa harus bersuara memanggil namanya. Ito juga hanya membiarkanku dipandangi oleh ayahnya begitu lama. Untuk sekedar mencari jawaban apakah benar aku bersalah atas ketidak lulusan putranya dari sekolah menengah atas tahun kemarin.
            Kutapaki lagi jalanan yang kulewati untuk menuju rumah Ito. Sebuah gang sempit  yang terlalu dibutuhkan banyak orang. Banyak tapak kaki yang terlihat. Mungkin hanya aku yang memberikan tapak sepatu di sini. Sebuah perkampungan yang tersembunyi tapi penduduknya sering terlihat di jalanan perkotaan. Seperti halnya ayah Ito. Seorang pedagang kaki lima.
            Apa yang telah kulakukan setahun yang lalu ? Yang membuat Ito enggan bertemu denganku lagi ? Pertanyaan itu belum terjawab hingga aku mencapai ujung dari gang sempit yang panjang ini. Mungkin benar kalau Ito tidak berhasil lulus dari ujian akhir SMA . Mungkin benar kalau aku sekarang mampu melanjutkan pendidikanku di sebuah universitas. Tapi aku rasa tidak benar kalau Ito harus tidak bicara padaku seperti ini.
          Ito lebih pintar dariku. Tapi aku lebih beruntung darinya. Itu adalah kenyataan. Tapi bukan kenyataan itu yang ingin kukatakan pada Ito setiap kali aku datang ke rumahnya. Tapi sebuah kenyataan lain, bahwa ia masih berhak mendapat perhatian dariku. Namun sepertinya ia tidak menyadari kenyataan lain itu. Ito seorang anak yang pintar. Tentu saja ia sudah memikirkan kenyataan itu sejak setahun yang lalu. Kenyataan bahwa dirinya yang pintar tidaklah seberuntung aku. Dan itu membuatnya tidak menghiraukan kenyataan lain bahwa ayahnya masih selalu berdiri di depan pintu kamarnya barang sejenak untuk mengucapkan pamit sebelum ia menuju jalanan perkotaan menjajakan dagangannya di sebuah tenda kecil. Dan juga aku yang masih selalu mengunjunginya berharap mendapatkan senyuman yang telah hilang sejak setahun yang lalu.
           Tatapanku masih terarah ke depan. Ito…yang berjalan menuju ke arahku itu benar Ito. Tangannya yang menenteng sebuah tas plastik kecil yang berwarna hitam, masih saja terlihat kurus seperti tahun kemarin. Tapi wajahnya tertunduk hingga aku tidak mampu melihat sorot matanya. Apakah tatapannya telah berubah selama setahun ini ? Aku rasa ayahnya sendiri tidak tahu. Mungkin saja pakdhe, begitu aku memanggil ayah Ito, tidak tahu kalau anaknya keluar rumah. Dengan bertelanjang kaki dan wajah tertunduk.
          Kuhentikan langkahku. Ito sepertinya menyadari kalau ada seseorang di depannya yang menunggunya menghentikan langkah juga. Tapi ia tidak tertarik untuk mengetahui siapa orang yang sengaja menghentikan langkah untuknya. Ia hanya mengamati ujung sepatuku yang terkena cipratan lumpur dari kampungnya. Dan ia segera tahu itu aku.
          Ia membuang bungkusan yang tadi dipegangnya dan berlari melewatiku. Ia benar, bungkusan itu hanya akan menyulitkannya melarikan diri dariku karena ia harus melewati sebuah gang yang sempit dan panjang untuk sampai ke kampungnya. Ito meninggalkanku bersama sebuah kantung plastik hitam yang setengah sengaja dijatuhkan. Bau makam segera menghampiriku. Sepertinya ia setengah sengaja menyuruhku melewati gang sempit itu lagi.
     Aku membetulkan letak kacamataku dengan telunjuk mengarah ke atas. Situasi seperti ini perlu perubahan. Tapi bagaimana aku mengubah Ito, aku sendiri yang harus memutuskan caranya.
            Kupungut kantung plastik itu dan segera kususul Ito. Tidak peduli betapa sempitnya gang itu. Tidak peduli juga kalau ini akan berakhir seperti kemarin dan kemarinnya lagi.
----
            ” Kau tidak menganggapku bodoh, bukan ? Hingga kau tidak menyangka aku akan tahu bahwa kau ada di sini,” kukatakan itu pada Ito setibanya aku di belakangnya.
            Tangannya masih menyentuh gundukan tanah di depannya. Kedua tangannya, dengan jari-jari terbuka seakan berharap bisa menggenggam gundukan tanah pekuburan itu. Kuistirahatkan kedua kakiku dengan ikut berlutut di samping Ito.
            ” Apa ibumu tahu kalau kali ini kau datang tanpa menebarkan bunga di atas makamnya ?,” tanyaku sambil menyodorkan kantung plastik berisi bunga makam yang tadi kupungut karena terlihat setengah sengaja dijatuhkan.
            Masih tidak bicara. Ada atau tanpa Ito di sini rasanya sama saja. Hening. Mungkin ada atau tidak adanya aku di sini sekarang juga sama saja bagi Ito. Aku berhak merasa begitu karena sedari tadi hanya makam itu yang menjadi background kedua bola matanya.
            Kini kedua tangannya meraba papan yang tertancap tepat di ujung pusara. Dalam pandanganku sepertinya Ito sedang mengeja dengan teramat pelan setiap huruf dan angka yang tertulis di sana. Sumirah, lahir 28-9-1966, wafat 5-8-2007. Aku tidak tahan melihat pemandangan seperti itu. Kualihkan pandanganku ke atas. Awan-awan terlihat berteman dengan Ito. Kenapa tidak berubah menjadi mendung hitam saja sehingga Ito akan segera bangkit dan itu akan menciptakan kesempatan untuk bicara dengannya. Kuhembuskan nafas dengan agak berat. Kuletakkan kantung plastik itu di atas gundukan tanah di depanku.
            ” Kudengar ibumu…,”
            ” Meninggal karena tidak percaya putra satu-satunya tidak lulus ujian akhir SMA,” Ito memotong kalimatku, tapi tatapan matanya hanya tertuju pada papan itu. ” Apa lagi yang ingin kau ketahui ? Akan kujawab pertanyaanmu dan setelah itu jangan pernah mengunjungiku lagi,”
            Ito bicara.
            ” Sayangnya, aku ingin terus mengunjungimu. Karena kita adalah sahabat. Kurasa kau tidak terlalu bodoh untuk melupakan hal itu. Selama setahun ini aku mencoba mengingatkan hal itu padamu kalau saja kau lupa,”
            Angin yang berhembus di tempat ini membuat suaraku agak sedikit kabur. Atau mungkin memang tidak ada keberanian yang sesungguhnya untuk menghadapi Ito.
            ” Kita adalah sahabat sewaktu dulu kita berbaris bersama setiap kali upacara bendera hari Senin. Kita juga adalah sahabat sewaktu dulu kau dan aku berebut buku di perpustakaan karena hanya itu buku satu-satunya. Aku juga ingat kita adalah sahabat ketika kita bertukar bekal di sekolah. Meskipun kita adalah anak SMA, tapi aku selalu menyuruhmu membawa bekal…,”
            ”…dan aku selalu suka bekal yang kau bawa. Sebungkus nasi dengan sambal khas buatan ibumu ditambah dengan…,”
            ”…kurasa aku tidak lupa menyebutkan kata’dulu’. Aku bukan lagi sahabatmu saat aku tahu bahwa ujian akhir SMA saja aku tidak lulus,”
            Ito semakin erat memegang papan pusara itu. Kurasa itulah yang bisa menguatkannya sekarang. Mungkin saja ia akan menangis meskipun tidak akan ditunjukkannya itu padaku.
            Ito, apakah ini salahku ? Apakah aku seharusnya meminta maaf sekarang seperti yang telah kurencanakan sejak setahun yang lalu ? Tapi kau memperlakukanku seakan aku hanya punya setengah kesalahan. Itu tidak cukup menguatkanku untuk meminta maaf padamu. Carilah setengah kesalahanku lagi dan tunjukkan itu padaku agar aku segera meminta maaf.
            ” Kurasa tidak baik membiarkan ibumu ada di tengah-tengah pembicaraan kita. Lebih baik kita mencari tempat yang nyaman untuk bicara,” kukatakan itu dengan masih terus memandangi bahunya.
            ” Kau lah yang berada di tengah-tengah antara aku dan ibuku. Aku tidak berharap kau ada di sini sekarang,”
            Ito mulai bicara banyak terhadapku. Meski semuanya bernada penolakan dan rasa sakit hati.
            ” Kurasa kau berharap,” aku teringat dengan kantung plastik yang terlihat setengah sengaja dijatuhkan tadi. Semua orang juga tahu kalau bunga-bunga sejenis itu hanya akan terlihat indah di atas pekuburan. Kini isi di dalamnya telah menghiasi gundukan tanah di depanku. Pertanda bahwa masih ada orang yang mencintai jasad yang terkubur di dalamnya.
            Ito bangkit. Ia mendahuluiku.
            ” Kau mau ke mana ?,” tanyaku sambil terus mengikutinya.
            ” Apa kau pikir aku akan bermalam di sini ?,”
            ” Bukan itu yang kumaksud. Hey, bicaralah dengan nada yang agak enak untuk didengar,”
            ” Bukankah setiap kali kau datang ke rumahku hanya untuk mendengarku bicara ?!,” tanya Ito masih dengan nada yang sama. Dan juga langkah yang sama. Langkah yang cepat. Tapi akhirnya ia berhasil membuatku tertinggal. Ito pasti saja sudah biasa berjalan di jalanan seperti ini. Berbatu dan terkadang berlumpur.
--------


 Aku masih mengamati Teo. Kupikir Teo akan membutuhkanku jika pada akhirnya Ito masih saja menjadi Ito setahun yang lalu. Ya, aku masih mengamati Teo. Teo yang melangkah seperti Ito. Teo yang setiap kali terlihat melewati gang sempit berlumpur dengan diapit dua buah tembok besar. Dan Teo yang tiap bergumam selalu tak lupa menyebut nama Ito. Kulihat ia ingin sekali mengatakan pada Ito sebuah rahasia besar yang pasti akan membuatnya kembali bersemangat. Menjadi Ito yang seperti dulu.
  ” Masalahnya adalah kebanyakan orang memikirkan apa yang tidak mereka inginkan, dan mereka bertanya-tanya mengapa hal-hal yang tidak mereka inginkan itu terus bermunculan,” katakanlah itu, Teo. Katakan pada Ito !!!.  Aku dengar itu perkataan John Assaraf, seorang mantan anak jalanan tapi pada akhirnya sekarang menjadi seorang pengarang buku terlaris internasional karena ia enggan berpikir tentang hal buruk yang menimpa dirinya, tapi memikirkan masa depan selanjutnya.    Atau mungkin kau ingin kucarikan kata bijak lainnya atau cerita dari seseorang yang mungkin bisa membantumu memulihkan semangat seorang Ito ?
  Baiklah, dengarkan apa yang akan kuberikan padamu. Ini adalah cerita dari Bill Harris, seorang pemilik perusahaan Centerpointe Research Institue yang telah memampukan ribuan orang di seluruh dunia untuk hidup lebih bahagia dan bebas stress. Anggap saja Bill Harris yang menceritakannya sendiri padamu karena mungkin kau akan lebih suka mendengarkannya daripada aku yang harus bicara.
  Saya mempunyai murid bernama Robert, yang mengikuti kursus online yang saya selenggarakan, dan melalui kursus ini ia dapat menghubungi saya melalui e-mail.
  Robert seorang gay. Dalam e-mail ia menceritakan realitas kelabu hidupnya. Di pekerjaan, rekan-rekan kerjanya berkomplot melawannya. Situasi kerjanya sungguh menekan karena sikap jahat dari rekan-rekannya. Ketika berjalan di jalanan, ia dilecehkan orang-orang homofobia. Ia ingin menjadi seorang pelawak dan ketika ia melawak, semua orang mencemoohkannya. Seluruh hidupnya adalah ketidakbahagiaan dan penderitaan, dan semuanya terpusat pada serangan yang ia terima karena seorang gay.
   Saya mulai mengajarkan bahwa ia berfokus pada apa yang tidak ia inginkan. Saya menunjukkan e-mail yang telah ia kirimkan dan berkata, ” Coba baca lagi. Lihatlah semua hal yang tidak Anda inginkan, yang Anda ceritakan pada saya. Saya dapat melihat bahwa Anda sangat bersemangat tentang hal ini. Dan ketika Anda memusatkan pikiran pada sesuatu dengan penuh semangat, hal itu akan terjadi dengan lebih cepat lagi,”
   Kemudian ia mulai merenungkan, serta menerapkan pemusatan pikiran pada apa yang sungguh-sungguh ia inginkan. Apa yang terjadi dalam enam minggu berikutnya sungguh-sungguh ajaib. Semua orang di kantornya yang selama ini melecehkannya dipindah ke bagian lain, berhenti bekerja, atau membiarkan dirinya apa adanya. Ia mulai menyukai pekerjaannya. Ketika ia berjalan di jalan, tidak ada lagi orang yang melecehkannya. Ketika ia melawak, ia mulai mendapatkan tepukan pujian, dan tidak ada lagi orang yang mencemoohkannya.
   Seluruh hidupnya berubah karena ia berubah dari berfokus pada apa yang tidak ia inginkan, apa yang ia takutkan, dan apa yang ia hindari, menjadi berfokus pada apa yang ia inginkan.
   Teo, apa kau sudah mengerti apa yang dimaksudkan Bill Harris ? Kalau kau sudah mengerti, katakan itu pada Ito. Sekarang !!!
   

            Ito sudah mulai mau bicara padaku. Di rumahnya. Meski kadang beberapa jam terlewat tanpa kata-kata. Aku tidak tahu apakah itu caranya untuk memberiku kesempatan bicara tanpa harus mempersilakanku atau itu caranya untuk membuatku diam. Apakah itu caranya memberitahuku kalau ia sedang tidak ingin diganggu. Tapi sampai kapan kata ‘sedang’ itu akan dipakai ?
            ” Ito, kau sudah membacanya ?,”
            ” Bill Harris ?,” tanyanya pelan. Tidak seperti menggunakan nada yang selama ini ia gunakan.
            ” He..eh,” kami berdua lalu terdiam.
            Aku hanya bisa menuliskannya. Tidak bisa mengatakannya secara langsung. Karena Ito akan memotong kalimat demi kalimat yang kusampaikan. Entah untuk sesuatu yang dianggapnya penting untuk diucapkannya atau tidak. Dan kalimat-kalimat bijak itu akan kehilangan makna jika terlalu banyak tanggapan yang diberikan. Cerita yang kutuliskan itu hanya butuh anggukan.
            ” Lalu…bagaimana ?,” tanyaku hati-hati. Berharap dengan begitu Ito akan merasa bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaanku.
            ” Apanya yang bagaimana ?,” Ito melemparkan pertanyaan retoris padaku. Tapi apapun bentuk pertanyaan itu, pasti bisa kujawab.                                                                                  
            ” Bagaimana dengan semangat hidupmu ? Kau sudah ingat di mana kau menaruhnya dulu ? Kau sudah ingat apa yang seharusnya kau lakukan sejak setahun lalu ?,”
            Terdiam. Ini menyenangkanku. Tidak ada pembelaan diri. Tidak ada potongan kalimat yang menunggu lanjutan. Juga tidak ada nada bicara yang penuh dengan penolakan dan sakit hati.
            Ito menerawang jauh ke depan. Kulihat kini banyak pemandangan yang menghiasi kedua bola matanya. Pohon pisang yang hijau dan kumpulan bocah yang bermain sepak bola dengan bertelanjang kaki di depan rumahnya. Dan kurasa jiwanya pun  kini tengah bermain bersama bocah-bocah itu. Karena aku merasa ia mendapat tambahan pelajaran dari bocah-bocah itu. Mereka menggiring bola jauh ke depan. Ke gawang lawan untuk mendapat sebuah kemenangan. Bukannya menggiringnya ke gawang mereka sendiri. Karena itu akan menyebabkan sebuah kekalahan. Ya…jauh ke depan.
            Aku tersenyum sendiri meskipun aku tidak tahu apa yang kupikirkan barusan sejalan dengan Ito ataukah tidak. Tapi aku memang seharusnya tersenyum karena Ito juga akhirnya tersenyum.
            ” Kenapa kau dulu berniat meminta maaf padaku ?,”
            ” Karena aku lulus…dan kau tidak,”
            Ito tersenyum kecil.
            ” Kau tahu bagaimana caranya aku bisa mengambil ujian paket C ?,”
------

Terima kasih, Teo. Kau sudah mau mendengarkanku. Kau sudah mendengarkan HATI NURANIMU sendiri…Aku akan terus menemanimu meskipun episode pertama dalam hidup Ito, episode kesedihan, telah berakhir dan sekarang ia akan menjalani episode kedua dalam hidupnya…Ito pasti juga punya HATI NURANI yang bisa kujadikan teman bicara jika ada saatnya kau meninggalkanku sejenak untuk bicara dengan Ito. Kenalkan aku padanya, Teo…HATI NURANI milik Ito…






Notes:
The first winner of short story competition (Provincial Level) that was held by Balai Bahasa Semarang ...
This is my first trophy when I was high school..
Enjoy it guys, give it your suggest so I can write better than this...

you can find the further info here:

0 komentar:

Post a Comment

 

Imajinasi Kepala Kaca Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review