Showing posts with label Nice Advices. Show all posts
Showing posts with label Nice Advices. Show all posts

Wednesday, May 22, 2013

Berhentilah Jadi Gelas

Posting on Rosania Rossa di Wednesday, May 22, 2013 7 komentar
Re-edit (17/04/2011 08:00)


Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Perasaan Selalu Disertai ALLAH Dimanapun Berada

Posting on Rosania Rossa di Wednesday, May 22, 2013 0 komentar


Re-edit (17/04/2011 17:48)

Astaghfirullah...merinding bacanya...semoga masih dikasih kesempatan oleh Allah untuk selalu memperbaiki diri...

Hikmah Solopos (14/1/2011). Beberapa minggu terakhir ini perhatian media massa terfokus kepada Gayus Tambunan. Tidak hanya karena statusnya sebagai tahanan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta, tetapi bisa nonton tenis di Bali, plesir ke Macau, Singapura, dan Kuala Lumpur. Juga perhatiannya kepada mafia yang membantunya keluar masuk penjara, sumber dana, dan orang kuat yang berdiri di belakangnya.Kejahatan baik yang bersifat individual maupun komunal seperti mafia yang berada di belakang Gayus muncul karena hilangnya perasaan diawasi oleh Allah. Mestinya setiap orang menyadari bahwa Allah itu sangat dekat dengannya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS.50:16)



Nahnu aqrabu ilaihi min hablil-wariid (Kami lebih dekat dari pada urat lehernya). Hidup dan mati kita ada di tangan-Nya. Hanya dengan sekali tarik urat leher selesailah kita. Dalam sebuah hadist digambarkan bahwa kita itu seperti memegang ujung seutas tali dan yang memegang ujung yang lain yang berada di atas sana adalah Allah.
Kita manusia yang lemah ini sangat tergantung kepada Allah. Kalau Allah melepaskan tali itu tamatlah riwayat kita. Mereka yang berbuat maksiat tidak menyadari kekuasaan Allah atas diri mereka dan tidak menyadari pula bahwa Allah menyertai mereka di mana saja mereka berada.

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [QS Al-Hadiid : 4]
Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada
Orang-orang yang terlibat dalam kelompok mafia hukum, mafia pajak, mafia paspor dan mafia yang lain juga sama. Mereka tidak menyadari bahwa ketika mereka melakukan pembicaraan rahasia untuk berbuat jahat itu Allah bersama mereka juga.
Allah hadir menyaksikan apa yang mereka kerjakan, mendengarkan apa yang mereka bicarakan, dan kelak di hari kiamat Allah akan memberitahukan kembali apa yang telah mereka kerjakan. Dalam Qur’an Surat Al-Mujaadalah : 7 Allah berfirman

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلاثَةٍ إِلا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلا خَمْسَةٍ إِلا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلا أَكْثَرَ إِلا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu“.
Saudaraku, perasaan bahwa dirinya selalu disertai Allah sangat penting untuk menjaga diri dari segala bentuk kejahatan dan ma’shiyat lainnya. Karena penyertaan Allah merupakan buah dari iman, maka mestinya menjadi fokus perhatian utama bagi setiap insan muslim untuk senantiasa meningkatkan iman kepada Allah dan hari Akhir dengan bermujahadah mempelajari firman Allah dan sunnah rasul-Nya, meyakini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Biasakanlah untuk mendahulukan kehendak Allah dan rasul-Nya dari pada kehendak pribadi. Hadirkan Allah dan rasul-Nya dalam setiap desah nafas, tutur kata, dan amal perbuatan. Dengan cara begini iman kita insya Allah akan berbuah IHSAN.”

Orang yang ihsan akan senantiasa beramal shaleh meskipun dia berada sendirian di ujung dunia. Tidak akan berbuat jahat dan tidak akan merencanakan perbuatan jahat. Betapa indahnya negeri ini bila setiap orang Islam memiliki sifat dan sikap seperti itu. ***
Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

Kenapa Harus Marah ?

Posting on Rosania Rossa di Wednesday, May 22, 2013 0 komentar
Re-edit (19/04/2011 05:53)

Membuka-buka situs dan menemukan artikel ini, alhamdulillah...bisa sebagai penyejuk di pagi hari...

Solopos (4/1/2011). Dua orang siswa sebuah sekolah kejuruan di Surakarta bekerjasama membunuh seorang siswa sekolah lain dengan sadis di sebuah komplek pekuburan. Konon, motifnya adalah ketersinggungan dikarenakan perilaku sang korban menggleyer motor……


Sebuah kemarahan yang berujung kepada dosa besar pembunuhan. Secara logika, kadang kita berpikir kog bisa ya sampai seperti itu? hah..itulah hebatnya syetan dalam menutupi hati dan mata para pelaku yang marah dengan perilaku kekejian dan kezaliman. Be carefull! semua menjadi mungkin ketika kemarahan tidak bisa ditahan. Cerita diatas bukanlah pertama kali, banyak sekali cerita sejenis. Hanya karena persoalan “sepele” bisa berakibat saling berbunuh, bahkan karena rebutan uang seribupun bisa terjadi kejadian serupa. naudzubillah….
Sobat, mengatur dan menahan nafsu marah memang gampang-gampang susah.. Marah adalah sesuatu yang manusiawi. Wujud dari kekecewaan dan cara untuk mempertahankan harga diri. Islam meminta kita agar menyalurkan kemarahan secara benar dan proporsional.
Betul sekali! Kemarahan yang dibimbing keimanan akan menghasilkan perilaku-perilaku produktif, terencana dan berorientasi untuk solusi penyelesaian. Sedangkan kemarahan yang tidak dibimbing keimanan dipastikan menerbitkan permusuhan, fitnah, tergesa-tergesa, sporadis sehingga memberikan hasil akhir yang tidak jelas bahkan memperuncing sebuah permasalahan dengan ujung penyesalan serta kekecewaan.
Seorang hakim yang tidak mampu memanage marahnya, tidak akan mampu memutuskan perkara dengan adil. Pemimpin pemarah tidak akan sukses sebab dia akan diikuti bukan karena kemuliaannya, tapi karena ditakuti. Keputusannya cenderung tak adil karena seringkali emosional. Bila berbeda pendapat, selalu ingin memuntahkan ketidaksukaannya. Singkatnya, pemimpin yang pemarah sebenarnya sedang menunggu waktu untuk jatuh. Seorang ibu yang pemarah akan menularkan budaya buruk terhadap anak-anaknya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil pasangannya sehingga menutup rajutan-rajutan kebaik-kebaikan yang sudah terlewati.
Rasulullah saw sendiri sebagai teladan kita juga pernah marah. Namun kemarahan beliau dibimbing oleh iman, sehingga beliau selalu proporsional. Misalnya, beliau marah ketika ada seorang imam yang menyulitkan makmumnya.

عَنْ اَبِى مَسْعُوْدٍ رض قَالَ: اَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ ص فَقَالَ: اِنّى َلاَتَأَخَّرُ عَنْ صَلاَةِ اْلغَدَاةِ مِنْ اَجْلِ فُلاَنٍ مِمَّا يُطِيْلُ بِنَا. قَالَ: فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص قَطُّ اَشَدَّ غَضَبًا فِى مَوْعِظَةٍ مِنْهُ يَوْمَئِذٍ. قَالَ: فَقَالَ: يَا اَيُّهَا النَّاسُ، اِنَّ مِنْكُمْ مُنَفّرِيْنَ، فَاَيُّكُمْ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ فَاِنَّ فِيْهِمُ اْلمَرِيْضَ وَ اْلكَبِيْرَ وَ ذَا اْلحَاجَةِ. البخارى

Dari Abu Mas’ud RA, ia berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, lalu berkata, “Sesungguhnya aku menjadi terlambat karena shalat Shubuh yang diimami oleh si Fulan, karena shalatnya terlalu panjang”. Perawi berkata : Maka saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah SAW sangat marah dalam memberi nasehat seperti pada hari itu. Perawi berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya diantara kalian ada orang-orang yang membuat lari, maka barangsiapa diantara kalian shalat mengimami orang banyak, hendaklah meringankan, karena diantara mereka ada yang sakit, ada orang yang sudah tua, dan ada orang yang mempunyai keperluan”. (HR. Bukhari)
Beliau juga pernah marah ketika mendapati kejorokan didalam masjid.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض قَالَ: بَيْنَا النَّبِيّ ص يُصَلّى رَأَى فِى قِبْلَةِ اْلمَسْجِدِ نُخَامَةً فَحَكَّهَا بِيَدِهِ فَتَغَيَّظَ ثُمَّ قَالَ: اِنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا كَانَ فِى الصَّلاَةِ فَاِنَّ اللهَ حِيَالَ وَجْهِهِ فَلاَ يَتَنَخَّمَنَّ حِيَالَ وَجْهِهِ فِى الصَّلاَةِ. البخارى

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata : Ketika Nabi SAW shalat, beliau melihat dahak di arah qiblat masjid, (setelah selesai shalat) beliau mengeriknya dengan tangan beliau dan marah, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya seseorang diantara kalian apabila sedang shalat, sesungguhnya Allah berada di hadapannya. Maka jangan sekali-kali ketika shalat ia berdahak ke arah depannya”. (HR. Bukhari)
Beliau sempat marah ketika perang Hunain berakhir karena kaum Anshar merasa kecewa dan menganggap Rasul tidak adil. Penyebabnya adalah pembagian ghanimah yang sebagian besar diberikan kepada kaum Muhajirin, orang-orang yang baru masuk Islam di Mekkah, dan bukan kepada kaum Anshar. Rasulullah kala itu memerah mukanya sampai-sampai berkata, “Jikalau Allah dan Rasul-Nya dianggap tak adil, maka siapa lagi yang adil. Padahal mereka pulang dengan hanya membawa harta, sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah.”
Kesimpulannya, silakan marah, asalkan proporsional dan dibimbing oleh iman (bukan oleh hawa nafsu). Malah akan menjadikan ‘aneh’ ketika seseorang yang mengaku Islam sebenarnya tetapi tidak bereaksi ketika  Agama dan simbol-simbol agama dihina atau dilecehkan, ketika kebenaran diputarbalikkan menjadi kesalahan/kedustaandan ketika kehormatan keluarga dan hargadiri diinjak-injak atau difitnah.
Trus gimana sih carannya memperhatikan dan menahan kemarahan yang sedang muncul setiap saat tersebut ?
1.       Dalam beberapa hadist Nabi, jika kita marah dalam keadaan berdiri, maka untuk meredam kemarahan sebaiknya kita duduk. Kalau marah dalam keadaan duduk, maka untuk meredam kemarahan sebaiknya kita berbaring. Jika tetap marah dalam keadaan berbaring, maka sebaiknya kita segera berwudhu (lalu sholat sunnah).

عَنْ اَبِى وَائِلٍ اْلقَاصّ قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى عُرْوَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيّ فَكَلَّمَهُ رَجُلٌ فَأَغْضَبَهُ، فَقَامَ فَتَوَضَّأَ، فَقَالَ: حَدَّثَنِى اَبِيْ عَنْ جَدّيْ عَطِيَّةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ. وَ اِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ. وَ اِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِاْلمَاءِ، فَاِذَا غَضِبَ اَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ. ابو داود

Dari Abu Wail Al-Qaashsh, ia berkata, “Saya pernah datang kepada ‘Urwah bin Muhammad As-Sa’diy, lalu ada seorang laki-laki yang berbicara kepadanya yang membuatnya marah, maka ia bangkit lalu berwudlu. (Setelah berwudlu) kemudian ia berkata : Ayahku mencerita-kan kepadaku dari kakekku yaitu ‘Athiyah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari syetan dan sesungguhnya syetan itu diciptakan dari api, dan hanyasanya api itu dipadamkan dengan air, maka apabila salah seorang diantara kalian marah hendaklah ia berwudlu”.(HR. Abu Dawud)

عَنْ اَبِى ذَرّ قَالَ: اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ لَنَا: اِذَا غَضِبَ اَحَدُكُمْ وَ هُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَاِنْ ذَهَبَ عَنْهُ اْلغَضَبُ. وَ اِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ. ابو داود

Dari Abu Dzarr, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, niscaya akan hilang marahnya. Dan jika belum hilang marahnya, maka hendaklah ia berbaring (tiduran)”. (HR. Abu Dawud)
2.      Berpikir sebelum merespon kemarahan. Buat jeda sebentar untuk berpikir apakah kita layak marah atau tidak. Apalagi jika terjadi “marah vs marah” bisa dipastikan menimbulkan stress dan dosa-dosa berikutnya.
3.      Sabar dengan memperbanyak syukur dan merenung (muhasabah) tentang banyaknya nikmat Allah kepada kita. Orang yang pemarah seringkali menunjukkan kepribadian yang kurang bersyukur dan menjadi sahabat syetan. Sedangkan para pencari Syurga akan berpikir jernih ketika terbakar amarah.

عَنْ اَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قُلْتُ  يَا رَسُوْلَ اللهِ، دُلَّنِيْ عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِى اْلجَنَّةَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَغْضَبْ. وَ لَكَ اْلجَنَّةُ. الطبرانى فى الاوسط رقم

Dari Abu Darda’, ia berkata : Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya atas suatu amal yang bisa memasukkan saya ke surga”. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan marah, maka bagimu surga”. (HR. Thabarani)
4.      Lembutkan hati dengan banyak beribadah. Ibadah akan membuat hati lembut dan sabar, sehingga intensitas kemarahan juga akan menurun. Ketika kemarahan membuncah, lekaslah istighfar memohon bantuan Allah swt dan ta’awudz

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيّ ص وَ نَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوْسٌ وَ اَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَالُوْا لِلرَّجُلِ: اَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُوْلُ النَّبِيُّ ص قَالَ: اِنّى لَسْتُ بِمَجْنُوْنٍ. البخارى

Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ketika kami duduk di sisi Nabi SAW, ada dua orang saling mencaci. Lalu salah seorang diantara keduanya menjadi marah, merah mukanya. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya, seandainya ia mengucapkan : A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)”. Kemudian orang-orang berkata kepada laki-laki tersebut, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Nabi SAW tadi ?”. Orang yang marah itu menjawab, “Aku ini tidak gila !”. (HR. Bukhari)
5.      Bergaullah dengan orang-orang yang hatinya lembut dan tidak pemarah sebagai tandingan dari lingkungan keras dan pemarah di sekeliling kita. Sehingga kita bisa menjadi orang kuat yang sebenarnya.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ. اِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ. البخارى

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah”. (HR. Bukhari)
6.      Ingatlah selalu! Jiwa pemaaf adalah salah satu ciri orang bertaqwa. Ciri para penghuni syurga kelak.

وَ سَارِعُوْآ اِلى مَغْفِرَةٍِ مّنْ رَّبّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَ اْلاَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ. اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ اْلكظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ، وَ اللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ. ال عمران

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS. Ali 'Imran : 133 - 134]

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS.42:37)
Kita tidak ingin seseorang yang sudah bersalah menjadi terkulai karena kezaliman kita. Kita mengharapkan taubat dan kebangkitan untuk menjadi lebih baik. Jadikan jiwa pemaaf sebagai simbol utama keimanan kita.

sumber :

http://mta-online.com/v2/2011/01/11/kenapa-harus-marah/
 

Imajinasi Kepala Kaca Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review