Minggu, 17 April 2011 11:36 (Re-edit)
Pagi ini adalah hari dimana hati saya sebebas udara yang tak berwujud. Ringan rasanya melangkah. Kemanapun. Dan tiba-tiba ibu mengajak saya ke sebuah pasar tradisional. Katanya sih mau beli taneman-taneman *memang uda takdir yak guru Biologi sukanya sama taneman.
Bahkan tadi berniat beli ayam buat diternak. Katanya biar hidup ini seimbang, ada manusia, tanaman, dan hewan di rumah. Saya hanya mengernyit, membayangkan siapa nanti yang akan merawat -.-". Untung belakangan diurungkan niat itu. *alhamdulillah :D
Tiba di pasar, ibu menawarkan apapun padaku. Mulai dari jajanan pasar sampe daging ayam. Wah..wah...bukannya saya tidak senang, saya malah bingung karena saya biasa nrimo apapun masakan yang dikasih ibuk, apapun makanan yang ada di rumah. Jadinya saya cuma jawab "gampanglah buk, ntar aja, yang penting beli taneman dulu"... *serasa dimanja, jadi tidak enak hati
Pas milih-milih taneman, suasana "dimanja" itupun serasa kental. Sewaktu saya menunjuk salah satu taneman yang entah apa namanya, ibu langsung membelinya, padahal saya memilihnya hanya karena suka warna sama bentuknya. Saya tidak tahu apakah taneman itu nanti awet ato nggak. Yang penting di taneman itu nggak ada ulatnya *geli geli geli banget kalo liat ulat, mending liat kecoa ato suruh nangkep kodok
Setelah seluruh pasar dijelajahi, tiba lah di penghujung pasar. Disana ada tulisan "kios daging". Ibu menyuruhku menunggu di luar. Ibu bermaksud membeli daging untukku. Katanya beliau miris melihatku yang "kurus" *hahhahhaha...teringat kemarin menaikkan berat badan 1kg dengan susah payah, lalu turun lagi tanpa merasa bersalah
Di luar kuperhatikan ibu yang tengah memilih dan menawar daging. Semakin kuamati semakin aku tidak ingin suasana ini berlalu dengan cepat. Kalau bisa, ingin kuhentikan waktu barang satu jam saja, agar aku bisa mengamati ibuku dengan tatapan seperti ini. Ya, kenangan seperti ini mungkin sebentar lagi tidak akan bisa di-replay. Sebentar lagi ibu akan punya pendamping baru yang semestinya dirawat dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh, berperan sebagai seorang istri yang baik. Dan tentunya waktu untukku akan jauh berkurang. Aku sempat berfikir untuk melarang ibu menikah lagi, tetapi segera kusadari bahwa itu hanya akan menjadi tindakan terkejam dan teregois yang pernah kulakukan. Ternyata melihat ibu bahagia membuat saya lebih bahagia.
semoga suatu saat nanti kita bisa mampir lagi disini...ibu...
.jpg)
0 komentar:
Post a Comment