Saturday, June 8, 2013

SAMPUL ABU-ABU

Posting on Rosania Rossa di Saturday, June 08, 2013

Bunda, di sini ada yang mengatakan padaku kalau masa depanku tak harus bersampul biru.
    Mereka membuatku tak bisa tersenyum, Bunda. Karena sepanjang aku berjalan di emperan toko-toko ternama, sampul biru sudah pada habis terjual. Mereka, para pemilik toko itu, tak menungguku datang ke Jakarta, Bunda. Mereka menyisakan sampul abu-abu yang sudah lama, usang, dan sama seperti punya kita di Surabaya. Lalu untuk apa aku membelinya ?
   Aku pun berjalan lagi, Bunda. memandang semua etalase, tapi tak satu pun sampul biru kutemui. Sampul abu-abu itu kembali muncul dan membayangi bayangan kakiku yang hendak melangkah, Bunda. Mungkin ia sudah dibuang oleh pemiliknya. Sudah kukatakan padanya kalau aku sudah punya. Tapi apa katanya, Bunda.
” Aku terlihat abu-abu di Jakarta, tapi mungkin takkan terlihat abu-abu di Surabaya,” Bagaimana mungkin, Bunda ? Aku hanya bisa bertanya padamu. Karena jika aku membuka percakapan lagi dengan sampul abu-abu itu, ia akan terus menawarkan dirinya untuk ikut pulang ke Surabaya meskipun aku tak membelikannya karcis kereta.

            Menjadi guru bukanlah harapanku, Bunda. Aku tak melihat profesi guru sebagai sampul biru yang bisa membuatku tersenyum kelak di hari tua. Untuk apa aku datang ke Jakarta jika hanya untuk menjadi guru ?. Tidak, Bunda. Aku berpamitan padamu dan pada (mantan) murid-muridku untuk menjadi orang sukses di Jakarta. Itu manusiawi bukan, Bunda ?. Kukira tak apa aku meninggalkan gedung sekolah tua itu dan meminta Hendra untuk menambah jadwalnya mengajar. Hanya 3 kelas dengan murid paling banyak 8 orang, Bunda. Itupun kalau mereka berhasil ’melarikan diri’ dari sawah dan orang tua mereka yang tak mengijinkan mereka sekolah hanya karena merasa malu jika untuk kesekian kalinya harus menghadapiku dan mengatakan bahwa tidak ada uang untuk membayar. Kukira Hendra tak akan menyalahkanku dan takkan keberatan mengajar sendirian. Ia juga pasti tahu kalau aku bisa untuk jadi lebih dari seorang guru yang harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam lamanya dari rumah hanya untuk sekedar mengajar di bangunan tua namun dengan sejumlah kecil murid yang semangatnya tak pernah tua. Harus melewati kali yang airnya kadang kugunakan untuk bercermin. Juga harus memakai sepatu bot karena jalanan selalu berlumpur. Aku tidak ingin selamanya bersampul abu-abu, Bunda.  Aku tak akan membawa ingatan tentang semangat mereka, semangat murid-muridku, ke Jakarta. Itu hanya akan mengendorkan semangat milikku sendiri untuk bisa lebih dari seorang guru.
             Hari ini aku mulai berkeliling Jakarta. Mungkin lebih tepatnya keluar-masuk beberapa perusahaan saja. Aku bahkan belum sempat melihat Monas, Bunda. Hanya karena ingin segera kudapatkan sampul biru untuk masa depanku. Mendapat pekerjaan yang selayaknya pantas kubanggakan padamu, Bunda. Meskipun kau pernah berkata dengan bangga bahwa putramu adalah seorang guru. Aku menjamin kali ini kau akan merasa lebih bangga, Bunda.
            Tapi lima menit ini aku kehilangan rasa banggaku, Bunda. Rasa bangga dengan ijazah pendidikan komputerku karena semuanya rata-rata mengatakan bahwa tidak ada hal yang bisa kukerjakan di sana. Mereka tidak memberiku kesempatan barang sehari dua hari untuk merasakan bekerja dengan komputer pribadi dan duduk di belakang meja tanpa harus bepikir keras bagaimana caranya mencari kata-kata yang tepat agar murid-muridku mengerti dengan apa yang kusampaikan.
            Aku mulai putus asa, Bunda. Dan dalam keputus asaanku ini aku pergi ke stasiun. Entah kenapa. Mungkin karena langkahku ke Jakarta berawal dari sini dan seakan-akan hanya tempat inilah yang kukenal. Karena di sini banyak manusia yang kehidupannya bersampul abu-abu. Tak ada bedanya denganku kukira. Tapi tak ada yang bisa kukatakan padamu tentang Jakarta, Bunda. Karena memang tak ada yang kutahu selain di sini kukira ada banyak orang yang kan memihakku untuk tidak menjadi seorang guru.
            Bunda, ada orang yang menghampiriku. Tapi aku tidak terlalu peduli. Bahkan aku tidak peduli apa nama stasiun ini meskipun untuk sekedar berjaga-jaga kalau nantinya aku tersesat karena aku terlalu yakin kalau aku akan membutuhkan stasiun ini baru beberapa tahun kemudian untuk mengunjungimu dan ceritakan semua tentang Jakarta. Saat itu akan banyak yang kuketahui tentang Jakarta.
            Lelaki setengah baya itu semakin mendekat. Mungkin, Bunda, ia melihatku sebagai sesosok manusia yang terbungkus sampul abu-abu. Warna abu-abu yang seperti warna mendung di Surabaya. Saat ini aku tengah dilihatnya berdiri di depan tempat tunggu penumpang dan ia bertanya padaku seakan aku memang orang yang tak bisa menyembunyikan kebingunganku. Tapi dalam tatapan matanya seakan ia mengira kalau aku bisa saja salah seorang dari kelompok orang yang sesekali mencuri besi-besi rel kereta untuk sekedar bisa membuat orang sepertinya dalam masalah.
            ” Mencari kerja ?,” Aku hanya mengangguk. Aku rasa tidak ada untungnya aku memperkenalkan diri, mengatakan siapa aku, dan datang dari mana. Tidak, Bunda. Orang ini sepertinya hanya seperti pedagang asongan yang tadi kutemui di kereta. Sekedar pertanyaan basa-basi. Memperlihatkan kalau ia juga masih tergolong orang yang ramah. Apa orang seperti abang ini bisa membentuku mendapat pekerjaan di Jakarta….selain guru.
            Kami pun lama berbincang. Ia menceritakan tentang sampul abu-abu yang dimilikinya padaku. Istrinya yang hanya wanita rumahan tapi dengan dua anaknya yang tetap sekolah. Abang itu bernama Herman, Bunda. Ia menjadi tukang sapu di stasiun yang aku tak tahu namanya ini.
            ” Sepertinya abang benar-benar mengenal Jakarta dengan baik. Saya Hamdi dari Surabaya,”
            ” Setiap hari ada banyak orang seperti kau yang datang ke Jakarta lewat stasiun sini. Dan abang yakin banyak orang yang sukses berawal dari stasiun ini. Semoga saja kau beruntung, Ham. Apalagi setelah kuperhatikan kau ini orang yang pandai bicara. Kau pernah berkerja sebelumnya ?,”
            Ia memanggil dirinya abang. Persis seperti yang kuucapkan. Kelihatannya abang Herman ini tahu banyak hal yang bisa membuatnya bertahan di Jakarta. Semua orang juga akan merasa nyaman berada di samping orang yang bisa menghargai apa yang mereka pikirkan, meskipun terkadang pemikiran yang aneh dan mengesalkan. Dan aku berpikir kalau abang Herman ini sedikit kelihatan lebih muda dari usianya yang setelah kutanyakan padanya adalah 30 tahun. Ia menyetujuinya.
            ” Dulu saya guru, bang. Tapi saya rasa menjadi guru tidak bisa banyak membantu saya, makanya saya mencari pekerjaan lain di Jakarta. Bukannya saya egois, bang, tapi hidup ini harus memandang realita kan, bang ?,”
            ” Itulah kenapa, Ham, kadang abang tidak ingin anak-anak abang meneruskan sekolah. Bukan soal biaya. Tapi kalau anak-anak abang mendapat seorang guru seperti kau. Mereka lebih baik tidak semangat sejak awal untuk sekolah daripada nantinya akan kecewa dan patah sekolah jika gurunya tidak akan atau kalau sepertimu dikatakan tidak ingin lagi mengajar,”
            ” Maksud abang ?,” Aku sedikit tersinggung. Guru seperti aku…?
            ” Kalau mereka sudah patah semangat, mereka hanya akan banyak bermain-main. Karena mereka menganggap tidak ada lagi yang memperhatikan. Setelah itu abang yakin kalau masa depan pendidikan bangsa kita ini bersampul abu-abu,”
            Ya, Tuhan, Bunda, abang Herman itu juga tahu tentang sampul abu-abu yang selama ini hanya kuceritakan padamu. Dan ia bicara tentang masa depan pendidikan.
            ” Tapi bang, bangsa kita masih punya banyak guru, bukan ? Saya rasa abang terlalu melebih-lebihkan,”
            ” Bangsa kita juga punya banyak tukang sapu. Bahkan apa yang bisa dibanggakan dari seorang tukang sapu. Tapi abang mencoba bekerja dengan nurani karena hannya itu yang abang punya. Apa jadinya kalau semua orang jadi pengusaha ? Bukankah akan banyak sampah yang menumpuk? Abang hanya lulusan SD, Ham. Tidak banyak yang abang ketahui tentang dunia pendidikan. Tapi yang abang tahu seorang guru sepertimu dikaruniai lebih banyak nurani ketimbang tukang sapu seperti abang,”
            ” Bang, bukankah manusiawi kalau saya berusaha memperbaiki keadaan saya. Dulu saya senang menjadi guru tapi realitanya kehidupan ini harus terus berjalan,”
            ” Abang tidak menyalahkanmu. Abang tidak merasa telah lama mengenalmu lantas berhak menilaimu. Anggap saja abang mewakili orang tua murid yang ada di Indonesia ini untuk memintamu terus mengajar. Abang menganggapmu sebagai orang yang penting. Memang banyak guru, Ham, tapi masih banyak lagi anak-anak yang punya semangat yang tak pernah tua untuk datang ke sekolah sekedar mengetahui apa nama orang yang mengemudikan kereta api…dari gurunya. Selagi kau masih hidup, Tuhan tidak akan lupa untuk memberi kita makan,”
            ” Kenapa abang peduli sekali dengan saya ?,”
            ” Seperti yang abang bilang tadi. Karena kau orang penting untuk bangsa kita. Kau tahu, sedikit untuk membuatmu semangat kembali, orang yang ada di foto itu..,” Ia menunjuk foto Presiden RI,”…Beliau juga bisa menjadi seperti ini karena jasa orang yang punya lebih banyak nurani daripada tukang sapu, yakni guru. Ham, jangan berpikir tidak ada yang akan kehilanganmu dengan keputusanmu itu,”
            Lalu abang Herman itu pergi, Bunda. Tanpa aku bisa mendengar suaraku sendiri untuk menanggapinya. Aku terdiam, Bunda. Aku rasa sudah sedari tadi aku terdiam.  Persis diam yang kurasakan saat aku mencoba membuat murid-muridku tenang agar pelajaran tak terganggu. Apa kabarnya mereka, Bunda ? Benarkah bagi mereka aku adalah orang yang penting ?. Teramat penting ?.
            Bunda, saat melihat kereta melintas, aku merindukanmu. Saat melihat asap mengepul dari gerbong terdepan, aku merindukan murid-muridku. Saat aku melihat jendela-jendela kereta dan para penumpang membuat keramaian, aku merindukan  lumpur yang menempel di sepatu bootku, merindukan kali yang airnya kadang kugunakan untuk bercermin.
            Bunda, tanpa aku sadari telah kubawa serta semangat murid-muridku itu ke Jakarta. Dan aku harus mengembalikannya kembali ke Surabaya.  Dan saat inilah aku tahu apa nama kereta yang kutumpangi, Bunda, sekedar menyenangkanmu kalau ada kenang-kenangan yang kubawa dari Jakarta.
            Sedikit banyak aku boleh menghibur hatiku kan, Bunda, kalau aku juga  orang penting di dunia pendidikan. Tanpa ada guru maka tidak ada pendidikan yang terlaksana dan karenanya Menteri Pendidikan kita tidak akan mendapat pekerjaan. Karena itu akan membuatku lebih semangat. Kalau pun aku dianggap tidak penting nantinya, aku akan tetap mengajar. Tidak akan membiarkan murid-muridku punya kesempatan mencuri besi rel kereta.

            Abu-abu juga warna kan, Bunda ?



Notes:
Runner Up in Short Story Competition (High School Level) se-eks Karisidenan Surakarta that was held  by UNS in 2007 (Theme: Masa Depan Pendidikan Indonesia)


0 komentar:

Post a Comment

 

Imajinasi Kepala Kaca Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review